blitar jaya

Hot

Post Top Ad

Image and video hosting by TinyPic

Monday, 3 April 2017

ARIFIN PANIGORO RAJA MINYAK YANG AKTIF DI POLITIK

April 03, 2017 0
ARIFIN PANIGORO
RAJA MINYAK YANG AKTIF DI POLITIK




Sebelum Orde Baru tumbang tahun 1998, nama Arifin Panigoro hanya dikenal kalangan terbatas sebagai pengusaha di bidang

perminyakan. Lingkaran pergaulannya lebih banyak dengan Pertamina dan pengusaha perminyakan internasional. Namun, ketika

reformasi tengah  hamil tua  yang ditandai dengan maraknya aksi demonstrasi mahasiswa, kesadaran politik Arifin bangkit.

Ia telah menjadi simbol kebangkitan politik pengusaha. Tidak hanya itu, ia turut serta secara aktif membantu pergerakan

mahasiswa, termasuk menyiapkan nasi bungkus untuk dikirim kepada mahasiswa yang tengah menggelar aksi di Gedung DPR

Senayan, Jakarta.
Alumni Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1973 ini memulai usahanya tidak langsung menjadi bos
di Meta Epsi Drilling Company (Medco). Sebelum tahun 1980-an, awalnya ia cuma sebagai kontraktor instalasi listrik door to

door. Selanjutnya memulai proyek pemasangan pipa secara kecil-kecilan. Begitu ada proyek yang berdiameter besar, hal itu

bukan porsi pengusaha lokal, melainkan pengusaha asing. Jadi, setiap Pertamina melakukan tender untuk pemasangan pipa

besar, maka perusahaan asing yang
menang karena untuk pipaline butuh peralatan berat. Peralatan itu umumnya hanya dimiliki oleh perusahaan asing.
Kondisi itu membuatnya berpikir, sebaiknya pengusaha lokal pun diberi kesempatan atau dibantu untuk bisa menangani

pemasangan pipa besar dan tidak hanya diberi pekerjaan yang kecil-kecil. Tahun 1981 ia memberanikan diri untuk mulai masuk

proyek pipanisasi yang berdiameter besar. Untuk pekerjaan itu, ia bekerja sama dengan perusahaan asing. Deal-nya, bila

satu proyek selesai, bagi hasilnya adalah peralatan itu. Mitra setuju, proyek pun selesai. Sejak itu dengan alat tersebut

ia mencari proyek ke mana-mana.
Selain menggandeng mitra asing, dukungan dan proteksi dari pemerintah amat diperlukan. Tidak mungkin
pengusaha lokal yang baru berdiri dan tidak memiliki pengalaman dapat tiba-tiba bersaing dengan perusahaan asing yang

berpengalaman di bidang perminyakan selama puluhan tahun. Menggandeng mitra luar dan dukungan pemerintah itu merupakan

cara pengusaha lokal bisa membuka pintu ke bidang bisnis yang lebih luas. Dengan begitu, persaingan dengan perusahaan

asing bisa dilakukan.
Semuanya dimulai dari tahapan membiasakan pengusaha lokal mengerjakan proyek besar. Contoh yang dialaminya dengan bendera

usaha Medco tejadi pada tahun 1979-1980 ketika terjadi oil boom, Sekretariat Negara mengambil inisiatif untuk membangun

kilang minyak karena ada tambahan anggaran. Pada saat itu, pemerintah berkeinginan untuk menyelipkan unsur pembinaan bagi

pengusaha lokal, termasuk Medco. Saat itu, dalam pembangunan Kilang Cilacap, Medco dikawinkan dengan satu perusahaan asal
Amerika Serikat. Akhirnya, Medco yang tidak tahu apa-apa tentang pemasangan pipa, menjadi mengerti.
Demikian juga saat memulai usaha pengeboran minyak tahun 1981, juga tak lepas dari bantuan pemerintah. Menurut Arifin,

tahun itulah titik awal Medco menjadi besar. Pada waktu itu, ia memiliki kedekatan dengan Dirjen Migas Wiharso yang

menginginkan ada pengusaha lokal dalam proyek jasa pengeboran. Kebetulan ada penyertaan modal pemerintah ke Pertamina,

yang mau melakukan pengeboran gas di Sumatera Selatan. Pemerintah mendorongnya untuk ikut tender, meskipun tidak punya

peralatan ngebor. Pemerintah memanggil perusahaan asing yang berpeluang menang diminta untuk menyewakan alat, atau memakai

orang-orang Medco sebagai mitra. Tujuan pemerintah waktu itu adalah untuk membesarkan pengusaha lokal. Namun, tanggapan

dari perusahaan asing itu membuat Pak Wiharso tersingung dan batal. Lalu Pak Wiharso memintanya menggarap proyek itu

sendirian. Arifin sama sekali tidak percaya dengan keputusan itu karena ia tidak memiliki pengalaman melakukan pengeboran.
Hasilnya, ia kelabakan karena proyek yang ditenderkan tahun 1979 sudah harus mulai dikerjakan pada tahun
1980. Dengan perasaan yakin, ia pun terima tantangan itu. Tahap awal ia instruksikan staf yang memiliki
kemampuan bahasa Inggris untuk menjajaki pusat penjualan peralatan pengeboran di AS. Baru setelah ada kepastian dan

diketahui harganya, ia terbang dari Jakarta ke Houston, AS. Perjalanan itu merupakan pengalaman pertamanya ke AS. Bermodal
"bahasa Inggris Tarzan" dan uang 300.000 dollar AS, ia melakukan deal dengan pemilik barang. Hasilnya, deal
berlangsung buruk.

Penjual barang meminta dalam waktu dua minggu barang seharga 4 juta dollar AS sudah dibayar, kalau tidak maka uang muka

300.000 dollar AS hangus. Ia terpaksa menerima syarat itu karena posisi tawarannya yang jelek. Setelah itu ia langsung

terbang ke Indonesia. Saking panjangnya perjalanan dengan tiket ekonomi, tiba di Indonesia langsung sakit. Namun, dengan

kondisi yang berat ia berusaha menemui Gubernur Bank Indonesia Rachmat Saleh, lalu ke Pertamina.
Cara itu merupakan langkah terakhir yang harus dilakukan karena ia masih merupakan pengusaha "bayi". Beruntung, Pak Piet

Haryono dan Pak Wiharso memberikan rekomendasi, Medco patut dibantu. Dana pun cair di ambang batas perjanjian. Proyek pun

bisa berjalan sesuai waktu yang ditentukan pemerintah.
Terhadap bantuan yang diberikan pemerintah itu, Arifin menilai sangat positif agar pengusaha lokal mampu
bersaing. Namun, tetap harus dilakukan secara betul karena kalau tidak bisa, jadi salah arah. Di sinilah sulitnya, kadang

proteksi itu memberikan hasil yang sebaliknya. Mumpung dikasih proteksi, pengusaha malah menjadi manja.
Setelah merintis usaha tahun 80-an, Medco memulai kejayaannya pada tahun 1990. Sebelum tahun 1990
Medco selalu bekerja sama dengan pihak ketiga dan untuk masuk ke sana bukan hanya masalah konsistensi ketekunan dan

normatif, tetapi juga urusan garis tangan sebagai penentu. Sebab, untuk memburu satu sumur minyak bukan urusan ribuan

dollar AS, tetapi jutaan dollar AS dan itu pun belum tentu ketemu minyaknya. Namun, keinginan untuk bisa mandiri tetap

ada, maka tahun 1990 untuk pertama kali Arifin membeli sumur minyak di Tarakan, Kalimantan Timur, seharga 13 juta dollar

AS. Ladang itu mampu berproduksi 4.000 barrel per hari (bph). Tahun 1995, beli lagi sumur minyak tertua PT Stanvac

Indonesia milik ExxonMobil, yang
sampai saat ini total produksi yang dimiliki Medco mencapai 80.000 bph.
Barangkali inilah prestasi paling gemilang dari Arifin dan perusahaannya, Meta Epsi Drilling Company (Medco).
Pembelian Stanvac dimenangkan melalui tender yang kemudian namanya diubah menjadi Expan. Dengan pembelian itu, PT Stanvac

tidak lagi dikuasai orang asing sebab perusahaan minyak tertua di Indonesia itu sudah dimiliki sepenuhnya oleh Medco.
Keberhasilan itu konon karena ada unsur tekanan dari pemerintah. Atas isu tersebut, Arifin membeberkan
bahwa ia membeli perusahaan minyak itu melalui tender intemasional. Untuk bertemu langsung dengan orangnya saja tidak

bisa. Baru setelah selesai pembelian, mereka bisa benar-benar bertemu. Ia membelinya secara langsung. Waktu itu

cadangannya cuma 20 juta. Kemudian tahun 1996 produksi digenjot. Hasilnya, satu lapangan saja bisa mendapatkan 320 juta

barel minyak.
Sukses di bidang perminyakan ternyata membuat Arifin berpikir lain masih dalam sektor tambang. Kenapa orang lokal tidak

bisa berjaya di gas, seperti halnya di minyak. Padahal Indonesia kan salah satu produsen gas terbesar di dunia dan banyak

industri yang berteriak
kekurangan gas? Pernyataan inilah yang kerap membuatnya gundah. Jika kita lihat pada satu sisi, Indonesia
menempati posisi nomor satu di dunia dalam ekspor LNG karena cadangan gas jauh lebih banyak dari minyak. Kini, cadangan

sudah mencapai 170 triliun kaki kubik (TCF). Jika cadangan itu diproduksi, sampai 50 tahun pun tidak akan habis.
Gas itu ada di luar Pulau Jawa, tetapi tetap harus harus dibawa ke Pulau Jawa karena berapa pun harganya
tetap menarik. Misalnya PLN, jika membeli gas harganya hanya 3 dollar per million metric british thermal unit (MMBTU)

sudah sangat mewah. Namun, kalau disetarakan dengan BBM sama dengan 18 dollar AS per barrel. Harga itu sangat murah

dibandingkan harga BBM yang harus dibayar PLN sebesar 30 dollar AS per barrel. Namun, kembali lagi, kenapa gas tidak ada

di Pulau Jawa, ini masalah kebijakan pemerintah. Jadi, mestinya Bappenas atau Menteri bidang Ekuin sama memikirkan, apakah

terus bergantung minyak yang harganya 30 dollar AS per barrel. Medco menjual ke Pusri 1,8 dollar AS ditambah ongkos pipa

0,5 sen dollar, sudah bisa untung.
Inilah yang ia anggap kebijakan itu keliru. Demikian juga proyek yang dibangun oleh PT Perusahaan Gas
Negara, yang berhasil menyambung pipa gas ke Singapura, setelah itu membangun pipa ke Pulau Jawa adalah kebijakan yang

salah. Gas di Sumsel sebenarnya tak banyak lagi, jadi seharusnya dibawa ke Jawa saja. Tetapi, barangkali pemerintah

memiliki pertimbangan harga di Singapura yang barangkali lebih baik.
Sukses di dunia bisnis membuatnya ikut berpetualang ke dunia politik. Awalnya ia melakukan pertemuan di
Hotel Radisson Yogyakarta tahun 1997. Sebenarnya itu adalah pertemuan atau diskusi biasa. Namun, efeknya luar biasa,

khususnya buat Arifin. Ia dituduh berupaya menggagalkan Sidang Umum MPR yang akan

mengesahkan Soeharto menjadi Presiden ketujuh kalinya.
Ketika aksi mahasiswa semakin memanas, Arifin memberi bantuan konsumsi kepada para demonstran yang melakukan aksi di

Gedung DPR. Ribuan kotak makanan dikirim. Tak heran jika kemudian muncul opini bahwa Arifin adalah tokoh di belakang aksi

atau cukong para mahasiswa. Namun, Arifin tahu bahwa ia tidak sendiri. Gerakan reformasi merupakan suratan untuk

memperbaiki keadaan.
Cobaan terhadap langkahnya di dunia politik masih berlanjut. Di era Presiden BJ Habibie, Arifin Panigoro kembali dijerat

dengan tuduhan pidana korupsi penyalahgunaan commercial paper senilai lebih dari Rp 1,8 triliun. Pada waktu itu, sejumlah

kalangan percaya dijeratnya Arifin karena kedekatannya dengan gerakan mahasiswa. Bahkan pada masa pemerintahan Megawati,

Arifin kembali dicoba untuk dijerat lewat perkara di kejaksaan. Sejak awal, dirinya yakin hanya dikerjain karena masih

banyak pihak yang tidak senang dengan aktivitas politik yang digeluti.
Pengalamannya sebagai pengusaha membuat dia tidak kaget dengan praktik politik karena di dalamnya ada aktivitas melobi

atau menggarap, juga money politics. Baginya, hari-hari uang adalah urusannya. Dari permulaan bekerja sebagai pengusaha,

ia tidak pernah buat kesepakatan dengan fasilitas yang diperolehnya. Demikian juga dengan urusan politik yang juga bagian

dari kompromi lintas fraksi, kesepakatan semua kekuatan. Hal-hal begitu tidak selalu pakai uang, cukup pengertian bahwa

kita punya sesuatu yang lebih besar, mari kita jalani sama-sama. Namun, perjalanan tidak selalu mulus, godaan banyak.

Apalagi kekuatan politik sekarang sesudah zaman Soeharto, relatif pemainnya baru semua.
Meskipun terbiasa bermain dengan uang, namun Arifin mengaku memiliki batasan dalam memainkan
uangnya. Sayangnya, proses politik atau proses pengambilan keputusan politik, ternyata uang yang berbicara. Padahal,

meskipun ia seorang pebisnis, tetapi ia mau bisnis tanpa uang. Meskipun ia mengaku, cara bisnisnya memang tidak sebersih

di AS. Di negara itu, mentraktir makan di atas 100 dollar AS sudah termasuk kategori sogokan. Ia tidak begitu amat, tetapi

mendambakan good government and corporate governance, supaya bisa membuat bangsa ini ke depan lebih baik.
Ia berhitung, hari ini, uang dihabiskan untuk apa saja. Ia mau menghitung berapa total uang yang dikeluarkan
dalam pemilihan kepala daerah di Indonesia, yang akan membebani APBD setiap daerah. Jangan lupa, itu uang rakyat dari

pajak. Kalau pemimpinnya main, tentu menggelembungkan dana proyek, tentu bawahan juga ikut ambil bagian. Dengan demikian

korupsi akibat kedudukan bisa menimbulkan efek berantai, jika dana diselewengkan Rp 1 triliun, uang rakyat yang bakal

hilang sekitar Rp 10 triliun untuk pemilihan kepala daerah. Perkenalannya lebih mendalam dengan dunia politik adalah

ketika partai-partai baru bermunculan tahun
1998-1999 setelah lengsernya
Soeharto dari kursi presiden. Pada awalnya, Arifin menjalin hubungan dengan berbagai tokoh politik, baik tokoh masyarakat

yang sudah lama dikenal maupun tokoh yang baru muncul. Saat deklarasi partai baru dilangsungkan, Arifin kerap

menghadirinya. Namun, akhirnya pilihannya jatuh ke PDI Perjuangan yang dipimpin Megawati Soekarnoputri. Bersama PDIP,

Arifin pun melenggang menuju Senayan sebagai anggota DPR/MPR.
Untuk kategori pemain baru di dunia politik, sebenarnya karir politik Arifin terbilang bagus. Ia bisa duduk di
jajaran DPP partai peraih suara terbanyak dalam pemilu. Ia pernah memimpin lintas fraksi, juga menjadi Ketua Fraksi PDIP

MPR. Namun, dunia politik memang seperti cuaca yang cepat berubah. Arifin yang kerap dikenal sebagai anak  indekos  di

partai berlambang banteng merah gemuk itu dianggap sudah kurang loyal kepada partainya dan mulai memihak lawan partai

politiknya bernaung.
Arifin Panigoro yang dulu dianggap sebagai inspirator pembangunan jalan mulus Presiden Megawati menuju kursi kepresidenan,

kini dianggap sebagai anak yang nakal. Isu pun merebak bahwa Arifin bakal dipecat. Namun, hingga saat ini, isu tersebut

tidak berbuah menjadi kenyataan.
Terhadap isu tersebut, ia berpendapat kalau dirinya dikeluarkan, sepertinya ia harus membuat acara
perpisahan dengan teman-teman. Tetapi, sebetulnya ia sudah memikirkan untuk keluar. Menurutnya, kalau dikeluarkan dirinya

akan lebih senang. Seperti orang kerja, kalau berhenti tidak dapat pesangon, kalau diberhentikan malah dapat pesangon.
Meskipun siap untuk keluar, namun mengenai masa depan politiknya masih belum jelas, dan ia sendiri masih
belum bisa mengira-ngira ke mana akan berlabuh. Hal itu terjadi karena dari tahun 1998 ia termasuk non- partisan, meskipun

belakangan bergabung ke partai. Awalnya, ia datang pada setiap acara peresmian partai

baru, sampai akhirnya bergabung dengan PDIP.
Arifin menganggap dirinya sebagai seorang oportunis yang iseng-iseng. Atau ia hanya ingin ada lima tahun periode yang

lain, tidak hanya menjadi seorang pengusaha.Tetapi yang pasti, hematnya, konyol jika berhenti lalu serta-merta melawan

PDIP, apalagi mau menggulingkan Megawati.
Jika benar-benar mundur dari dunia politik, kemungkinan ia akan relaksasi dan bermain golf di Paris atau
mencari sekolah khusus untuk mereka yang sudah berumur di kota yang mempunyai makanan yang enak- enak. Mungkin enam bulan

istirahat dulu.
Ia juga termasuk orang yang respek terhadap cendekiawan muslim Noercholish Madjid (Cak Nur). Menurutnya, Cak Nur itu bukan

politikus, tetapi berminat jadi presiden. Ketika pertama kali mengemukakan minatnya jadi presiden Arifin termasuk orang

yang awal-awal mendatangi dan bertanya, ternyata jawabannya memang mau. Pikirnya, siapa pun ini, dia dari unsur yang

berbeda dibandingkan politikus yang lain. Dengan demikian bisa menjadi ukuran moral, sebab moral juga harus terukur.

Paling tidak, politikus ada malu-malu sedikit. Jadi, pencalonan Cak Nur, sebenarnya dapat meningkatkan kualitas

pertandingan.
Mengenai kehidupan keluarganya, suami dari Raisis A Panigoro cukup bahagia. Anak-anaknya sudah besar, bahkan yang tertua

Maera Hanafiah sudah menikah dan sebentar lagi dikarunia anak kedua. Adapun yang bungsu Yaser Mairi sedang menambah

pendidikan di Singapura pada bidang IT. Sekarang, meskipun agak telat, ia sadar, kalau dirinya kurang memberikan perhatian

kepada anak-anak, karena jam kerja yang ngawur. Sekarang, sejak sekolah di luar negeri, anak-anaknya seakan-akan lupa

dengan orang tua.
Meskipun anak-anak itu bersekolah di luar negeri, namun tidak ada yang secara khusus disiapkan
menggantikannya. Anak pertamanya seorang ibu rumah tangga, anak kedua tidak dipersiapkan untuk itu. Prinsipnya, Medco

bukan perusahaan keluarga, jadi sebaiknya dijalankan oleh profesional. Kebetulan, adiknya orang minyak. Jadi, Hilmi

Panigoro duduk Medco.
Ia juga tidak akan memaksakan anak-anak untuk meneruskan usaha orang tuanya. Jika kapasitasnya sudah
dipenuhi, silakan saja kalau mau meneruskan. Ia mengaku tidak takut jika perusahaannya dipegang oleh orang lain, toh semua

aset, cadangan tidak ke mana-mana.
Meskipun kini sudah menjadi "raja minyak", suami dari Raisis A Panigoro ini mengaku, kaya itu relatif. Dia mengaku tak

pernah menghitung, apakah dirinya kaya atau tidak, sebab semua hidup yang dijalani terus menggelinding. Baginya, disebut

kaya itu relatif, kalau di Indonesia, seperti dirinya memang sudah menonjol. Sebagai orang yang beberapa kali dicekal

untuk bepergian ke luar negeri, ia pun bertanya untuk apa kekayaan itu.
Sebagai orang yang romantis, ia mengaku merasa benar-benar kaya, kalau berada dalam satu konser musik
yang benar-benar disukai. Seperti saat ini, setelah bisa menikmati alunan gamelan Jawa, maka setiap mendengar musik Jawa

itu sebelum tidur, dia merasa kaya. Jadi, baginya kaya cukup sederhana, bukan harta melimpah atau kekuasaan.
Arifin juga sadar, suatu saat akan pensiun sebagai orang perminyakan. Namun, tidak berarti ia akan berdiam
diri. Ia merencanakan untuk memfokuskan ke Medco yang lain yaitu di bidang agrobisnis. Sekarang ini orang sedang banyak

bicara tentang pertanian. Masalah minyak goreng yang masih kurang kelapa sawitnya. Mungkin itu adalah salah satu pelabuhan

yang akan ditujunya kemudian.

Read More

ALIM MARKUS PENEMBAK BURUNG GRUP MASPION

April 03, 2017 1
ALIM MARKUS
PENEMBAK BURUNG GRUP MASPION



Maspion dan Alim Markus adalah dua nama yang tak terpisahkan. Di Jawa Timur, orang mengenal nama Maspion sebagai kelompok

usaha besar, yang menjamah berbagai bidang usaha: industri peralatan rumah tanga, elektronik, perbankan, real estate

hingga perbisida. Sedangkan Alim Markus dikenal sebagai Presiden Direktur Grup Maspion, yang mampu melambungkan nama

Maspion sebagai salah satu kelompok usaha yang paling bersinar di Jawa Timur. Perkembangan Grup Maspion yang makin pesat

belakangan ini memang tidak lepas dari sentuhan tangan dan kegigihan Alim Markus. Pria berperawakan sedang ini rela

mengorbankan pendidikan dan masa kecilnya untuk mulai berkiprah di dunia bisnis.  Saya hanya mengenyam pendidikan sampai

kelas dua SMP karena keburu membantu usaha orang tua,  menurut Markus. Ya, pada usia 15 tahun, sebagai anak tertua Alim

Markus, lelaki yang kini berusia 44 tahun itu diminta untuk membantu bisnis keluarganya, PT Logam Djawa  produsen

peralatan rumah tangga sederhana yang terbuat dari alumunium, seperti panci dan wajan. Mulailah Remaja cilik Markus

meninggalkan pendidikan formal di Sekolah, dan memasuki ajang pendidikan yang lebih luas: dunia bisnis. Ia keluar masuk

pasar dan toko untuk menjajakan barangnya. Bertemu dengan berbagai macam orang, dengan karakternya yang beragam. Dari

pergaulan itulah ia menimbah ilmu yang tidak pernah diajarkan di Sekolah. Selain itu, karena merasa pendidikan formalnya

kurang,
Markus pun mau bersusah payah menambah ilmu di sela-sela kesibukannya menjalankan roda usaha. Ia
mengambil berbagai kursus.  Pengetahuan saya dari Sekolah kan sangat minim, mau nggak mau saya harus belajar sendiri,

ujarnya. Maka, ia pun sibuk belajar akuntansi, bahasa Inggris dan Jepang   belakangan ia juga belajar bahasa Korea dan

Jerman. Karena perusahaannya masih kecil, Markus pun kemudian menjelajah berbagai aspek dalam pengelolaan usaha. Selain

menangani pemasaran dan distribusi, ia pernah menjadi kasir, pemegang buku, dan pekerjaan lainnya.  Karena saya membantu

perusahaan sejak kecil sampai besar, maka saya mengalami semua seluk beluk perusahaan,  kata Markus. Berkat gemblengan

masa lalunya, hingga
kini Markus selalu ingin mengetahui bagaimana perkembangan bisnisnya. Jadi, misalnya, ketika berjalan-jalan di pabrik, ia

bisa tahu berbagai proses produksi yang dijalani. Ia memang ingin mengetahui segala sesuatunya secara rinci. Kita harus

mengetahui dan menguasai semua bidang pekerjaan,  kata Markus. Tapi, itu tidak berarti dengan mengetahui secara mendalam

semuanya lalu Markus mengerjakan sendiri.  Sebagai pimpinan kita harus bisa Mendelegasikan wewenang,  tuturnya. Cuma ia

punya sikap yang jelas, Mendelegasikan wewenang adalah suatu keharusan, tapi dia tetap harus tahu secara rinci.  Kan

banyak pengusaha yang bersikap,  Ngapain saya tahu secara detail, saya serahkan saja kepada orang sudah cukup.  Nah, yang

seperti itu bukan pengusaha betul. Kita boleh mengetahui, tapi jangan dikerjakan sendiri. Kalau dikerjakan sendiri, kapan

selesainya dan kapan memimpin orang lain.
Agaknya, keterlibatan total Markus dalam pekerjaannya itulah yang membuat perusahaan keluarga Alim terus
berkembang. Keinginan Markus untuk maju juga kian menggebu-gebu. Seiring dengan perkembangan usaha, Markus makin rajin

menimbah ilmu dari berbagai sumber: mulai dari kursus-kursus (kalau perlu ke luar negeri) hingga berbagai seminar, dan

pergaulan dengan kalangan bisnis. Ia pun kerap menyerap gagasan dari berbagai buku yang dibacanya. Kenapa Markus demikian

bersemangat menempah diri?  Orang yang tanpa pengetahuan tidak akan menjadi profesional, kata Markus. Tapi, pengetahuan

saja dianggap tidak cukup. Profesional saja masih kurang. Harus ada faktor lain, yakni punya kemauan keras, disiplin, dan

ketekunan. Kalau punya kemauan keras tapi gampang putus asa, itu tidak betul, harus tekun dan langgeng. Kemauan keras tapi

tidak disiplin, itu juga salah. Dan yang tak kalah penting kemampuan membawahkan (leadership), kata Markus, membeberkan

kiatnya memimpin Maspion. Belajar sambil berbisnis itulah yang menempahnya hingga cepat matang. Tak heran jika dalam usia

yang masih cukup muda, 30 tahun, Alim Markus pun tampil sebagai Presdir Grup Maspion, menggantikan posisi ayahnya pada

1980. Ketika itu, nama Logam Djawa tidak lagi  berbunyi , karena sejak 1971 Markus bersama ayahnya mendirikan PT Maspion

Plastic & Metal Manufacturing. Sejak itu nama Maspion berkibar, dikenal sebagai produsen alat-alat rumah tangga yang

terbuat dari plastik dan alumunium. Di industri plastik, yang dihasilkan Maspion bukan Cuma rantang atau

termos dan berbagai macam peralatan rumah tangga lainnya, tapi juga pipa PVC. Bahkan lebih ke hulu lagi, masuk ke produk

bijih plastik. Demikian pula di alumunium, yang dihasilkan bukan lagi panci-panci sederhana, tapi dengan bahan yang lebih

baik, stainless steel dan peralatan rumah tangga berlapis Teflon, serta aluminium untuk konstruksi. Kini, puluhan

perusahaan bernaung di bawah bendera Maspion kepanjangan nama Mas Pionir. Karyawannya yang tersebar di tiga lokasi pabrik

(Maspion Unit I, II dan III) ada
20.000 orang. Untuk memimpin perusahaan sebesar itu, Markus dibantu adik-adiknya: Alim Mulia Sastra, Alim Satria, dan Alim

Prakasa. Seperti diketahui, Grup Maspion dibagi dalam beberapa divisi. Dan di setiap divisi, Markus berduet dengan salah

satu adiknya. Misalnya, di Indal Alumunium Industry, penghasil peralatan rumah tangga dan berbagai jenis produk alimunium

lainnya, Markus bersama Prakasa tampil sebagai pemimpin. Kalau saya tidak ada, misalnya sedang keluar negeri, maka yang

menangani perusahaan ya Pak Markus,  kata Prakasa. Saudaranya yang lain hanya sebatas pemegang saham.  Saham yang dimiliki

sama besarnya, hanya saya yang lebih tinggi 5% di bandingkan adik-adik saya untuk setiap perusahaan Grup Maspion,  kata

Markus. Dengan pembagian wewenang seperti itu, proses pengambilan keputusan bisa cepat. Misalnya, kalau ada usul untuk

mengembangkan usaha di Indal, maka yang berbicara cukup Markus dengan Prakasa. Jika keduanya sepakat, rencana pun

dijalankan. Jika tidak, maka perbedaan yang muncul di bawa ke rapat setiap Senin. Rapat yang diselenggarakan di kantor

pusat Grup Maspion ini   di Jalan Kembang Jepun, Surabaya   juga dihadiri oleh pemegang saham mayoritas (50%) Grup

Maspion, Alim Husein. Di situlah keluarga Alim (Alim Husein, Alim Markus, Alim Mulia Sastra, Alim Satria, Alim puspita dan

Alim Prakasa) membicarakan berbagai hal penting yang menyangkut perkembangan Maspion. Bagi Prakasa, peran paling penting

dari Markus dalam pengembangan bisnis Maspion adalah penataan sistem manajemennya yang
dilakukan pada tahun 1980-an. Pak Markus sangat memperhatikan penataan ini, mulai dari sistemnya hingga
pengadaan perangkat komputer pada tahap awal pengembangan perusahaan,  kata Prakasa, yang baru terjun ke bisnis setelah

meraih gelar MBA dari Kanada. Dalam mengembangkan usaha, Markus sangat selektif memilih mitra bisnis. Kami selalu memilih

mitra bisnis yang terbaik di bidangnya,  kata Markus. Umpamanya, Maspion menggandeng Du Pont (Amerika Serikat) yang

memiliki teknologi Teflon   kemudian melebar ke industri agrokimia. Dan bermitra dengan Samsung (Korea Selatan) Maspion

masuk ke industri elektronik dan electric home appliance, seperti kipas angin dan Setrika. Contoh lain, Raksasa Marubeni

diajak bermitra untuk menghasilkan produk antikarat. Ketika membidik industri melamin, Maspion memilih mitra dari

Thailand. Peralatan makan melamin yang dihasilkan perusahaan Thailand itu paling tinggi mutunya di dunia,  kata Markus.

Dengan memilih mitra yang paling menonjol prestasi teknologi atau penguasaan pasarnya, Maspion akhirnya mampu menghasilkan

produk dengan kualitas tinggi. Itu sebabnya, pesanan dari mancanegara mengalir ke Maspion. Sebuah jaringan toserba di AS,

misalnya, memesan
peralatan masak yang khusus dipasarkan di Negara Paman Sam itu   Master Cuisine 9000.
Maspion kini sudah besar. Dan itu terjadi karena strategi ekspansi yang diterapkan Markus cukup mengena. Kami menganut

falsafah kalau kami menanam padi, hasilnya pun padi. Kalau kami menanamnya banyak, hasilnya juga banyak, kata Markus.

Jelas, bahwa di bawah kepemimpinan Markus, Maspion akan terus melakukan ekspansi, baik yang masih berkaitan dengan bisnis

yang kini ditangani, atau sama sekali bidang usaha baru. Jangan tanyakan apa bisnis inti Grup Maspion. Sebab, bagi Markus,

 Core business adalah bisnis yang bisa dikuasai.  Jadi, semua usaha yang dimasuki Maspion adalah bisnis inti.  Konsep saya

lain. Kalau kami bisa bersaing dengan orang lain, itulah bisnis inti kami. Jadi, tak berarti saya hanya terjun ke satu

industri, tanpa mengembangkan yang lain, tuturnya serius.  Namanya usaha, ya segala bidang kami masuki, ujarnya lagi. Bagi

Markus, pengembangan usaha adalah hal yang perlu terus menerus dilakukan. Ibarat
menanam pohon, kalau hanya bisa menanam lima pohon, lima itulah yang dipelihara sehingga manjadi besar.
Setelah berbuah, tanam lagi pohon lain agar pohon yang ada di lahan usahanya bisa berkembang terus.  Dan di bidang itu

kami harus menjadi market leader,  katanya. Itu dibuktikan dengan penguasaan pasar plastik peralatan rumah tangga nasional

sebesar 30%, pipa PVC 40%, dan alumunium sheet 80%. Namun Markus juga sangat menekankan bahwa dalam pengembangan bisnis

tidak perlu serakah. Sebab, kalau serakah, bisa diibaratkan, Kita ingin menanam pohon sebanyak-banyaknya, tapi kewalahan

menyirami dan memupuknya, sehingga hasilnya menjadi jelek. Dalam menangkap peluang bisnis. Markus mengumpamakan seperti

memburuk burung. Dan sebagai pemburu peluang, senjata utama pengusaha adalah permodalan.  Tanpa modal, kan tidak mungkin

menjalankan usaha. Modal ini pun harus diakumulasikan, karena dengan modal

kecil, usaha yang bisa dimasuki juga kecil,  kata Markus. Sedangkan kemampuan manajemen diibaratkan sebagai kemahiran

menembak. Kita harus aktif. Peluang usaha adalah burung yang harus dikejar,  ujarnya. Nah, dalam memburu peluang itu,

ketepatan waktu juga penting. Sebab, kalau tidak tepat, misalnya membidik terlalu lama, bisa saja tiba-tiba burung

tersebut terbang dan kesempatan pun menghilang.  Harus punya keberanian untuk menembak pada saat yang tepat,  kata Markus.

Dalam bekerja, semangat efisiensi sangat mewarnai gaya kerja dan penampilan Markus. Ruang kerjanya, misalnya, tidak

terlalu besar dan transparan dengan dinding dari kaca tebal. Orang yang lalu lalang di depanya akan mengetahui apakah

Markus ada di ruangan atau tidak. Apalagi pintu ruang kerjanya selalu terbuka. Semangat keterbukaan? Tidak persis

dimaksudkan begitu. Yang diutamakan efisiensi. You buka pintu saja sudah kehilangan waktu sekian detik. Kan sayang.

Biarkan saja pintu terbuka, toh tidak ada nyamuknya,  kata Markus. Ia pun tidak khawatir gerak- geriknya terlihat oleh

bawahannya. Kalau sama karyawan tidak apa-apa. Tamu kan tidak akan nyelonong begitu saja karena sudah sering di bawah.

Sekretaris saya pun bisa menghadap orang sembarangan,  kata Markus. Kepercayaan Markus pada  filternya  memang tidak

belebihan. Begitu masuk ke kantor pusatnya di lantai pertama, orang akan segera berhadapan dengan petugas yang akan

menanyakan maksud kedatangan orang itu. Jika diizinkan bertemu dengan bos Maspion, tinggal naik tangga ke lantai dua, dan

akan
berhadapan dengan empat, ya empat sekretaris Alim Markus.  Sekretaris saya memang empat. Tapi semuanya efisien, bekerja

penuh. Coba you lihat kalau masuk ke kantor saya, tidak ada orang yang membaca koran. Semua bekerja, kata Markus. Tidakkah

pekerjaan para sekretaris itu bertabrakan satu sama lain? Tidak. Pekerjaan kami terbagi dalam beberapa masalah. Apalagi

Maspion kan perusahaan besar, ada puluhan perusahaan, sehingga permasalahan pun banyak,  kata Wati, yang mengurus bidang

umum. Sedangkan untuk urusan jadwal kegiatan Markus, Catherine yang mengatur. Begitulah, jika di luar kantor, atau sedang

melaju di atas mobilnya, Markus tinggal mengecek kepada Catherine, apakah ada orang yang mencarinya. Jika ada, ia tinggal

menghubunginya. Atau menanyakan persoalan yang mesti diselesaikan pada sekretaris lain jika menyangkut bidang usaha yang

dibawahinya. Soal real estate, misalnya, akan langsung berhubungan dengan Setyowati.
Markus, efisien menggunakan waktunya. Setiap hari, bangun pukul 5.00, lalu segera meluncur ke lapangan golf. Dari tempat

olah raga, ia tidak balik ke rumah. Saya mandi dan sarapan di tempat golf, dan langsung ke kantor, kata Markus. Sebelum

pukul 08.00 Markus sudah tenggelam dalam urusan kantor hingga sore hari. Karena itu, sepulang kerja, waktunya dicurahkan

untuk keluarga. Markus pantang membawa pekerjaan ke rumah. Demikian pula isterinya, Srijanti, sama sekali tidak pernah

menjamah atau merecoki pekerjaan suaminya atau urusan kantor. Jadi, setelah pulang dari kantor, di rumah waktu Markus

dihabiskan untuk keluarga, dengan sang isteri dan dua anaknya yang masih kecil. Lima anaknya yang lain bersekolah di

Singapura. Praktis rumah di atas lahan seluas 1.800 meter persegi luas bangunannya sekitar 250 meter persegi yang ditata

apik itu terasa lengang. Dengan 47 pabrik dan 20.000 karyawan, sebenarnya Maspion dan keluarga alim sudah boleh disebut

sukses. Toh, Alim Markus masih merasa bisa mengembangkan kelompok usahanya untuk menjadi lebih besar lagi. Di benaknya

sudah tergambar  peta  perkembangan yang akan ditempuh dalam 5  10 tahun mendatang.  Jika disituasi ekonomi dan politik

tetap stabil seperti sekarang, kami bisa terus berkembang dan menampung tenaga kerja sampai 50.000,  ujarnya. Impian yang

cukup
berani . Soalnya, jangankan mengurus karyawan puluhan ribu, mengelola karyawan yang jumlahnya ratusan
saja bisa bikin kelenger.- apalagi kalau muncul aksi mogok. Maspion pun pernah merasakan bagaimana kacaunya situasi ketika

para pekerja mogok pada tahun 1993 lalu. Jika di perusahaan lain tuntutan utama pemogokan biasanya menyangkut penyesuaian

upah atau gaji, di Maspion lain, karena tingkat upah di kelompok perusahaan ini memang selalu di atas upah minimal yang

ditetapkan Pemerintah. Justru karena upahnya yang sudah lumayan itulah, Maspion terhindar dari pemogokan. Ketika aksi

mogok merebak di Surabaya, seorang pejabat di sana menunjuk Maspion sebagai contoh perusahaan
besar yang tak pernah dilanda pemogokan, dan meminta pengusaha di Surabaya mencontoh Maspion. Markus ingat persis omongan

pejabat itu diucapkan pada bulan Juni 1993.  Eh, tak tahunya pada bulan Juli karyawan Maspion mulai mogok, kata Markus.

Yang menyulut pemogokan, menurut Markus, karena persoalan
normatif. Para karyawan meminta agar pimpinan pabrik salah satu unit usahanya dipecat. Alasannya, kepala
pabrik tersebut terlalu singkat memberi waktu istirahat, Cuma 39 menit, yang dinilai para karyawan tidak cukup untuk

dipakai makan siang dan sembahyang. Apalagi jika hari Jum at, karyawan harus pontang-panting

makan dan sholat Jum at. Telat sedikit, mereka disemprot pimpinan, lengkap dengan ancaman pemecatan. Situasi itulah yang

membuat karyawan mangkir kerja. Markus akhirnya mencopot pimpinan pabrik yang sok kuasa itu, dan memutasikannya ke bagian

lain. Ternyata kejadian itu diikuti oleh karyawan bagian lain. Mereka merasa mendapat angin mogok dan meminta pimpinan

yang tidak disukai dipecat. Sialnya, ketika aksi mogok digelar terjadi kebakaran di tiga pabrik, Di Maspion unit 1 kan ada

15 pabrik, yang mogok itu empat pabrik, kata Markus. Permintaan para karyawan untuk memecat atasannya masing-masing di

pabrik kedua, ketiga,
dan keempat, ditampik Markus. Ia meminta supaya perselisihkan antara karyawan dan pimpinannya
diselesaikan secara hukum.  Siapa yang merasa dirugikan, silakan melapor ke Depnaker atau melalui kepolisian dan ke

pengadilan, kata Markus. Kejadian itu memberi hikmat kepada Markus untuk lebih memperhatikan aspek nongaji karyawannya.

Markus, kini setiap Sabtu sore 200   300 karyawan Maspion Unit
1diangkut untuk berolahraga; senam atau lari atau pertandingan antarpabrik.  Mereka berolahraga dan kami
menghitung waktu olahraga itu sebagai lembur, kata Markus. Saat berolahraga itulah, kebersamaan karyawan dengan

pimpinannya digalang. Energi para karyawan yang masih muda-muda pun tersalur secara positif.

Read More

Sunday, 2 April 2017

30 Rahasia Wanita yang Harus Pria Ketahui

April 02, 2017 0
30 Rahasia Wanita yang               Harus Pria Ketahui




1. Bila seorang wanita mengatakan dia sedang bersedih,tetapi dia tidak meneteskan airmata,itu berarti dia sedang menangis di dalam  hatinya.


2. Bila dia tidak menghiraukan kamu setelah kamu  menyakiti hatinya,lebih baik kamu  beri dia waktu untuk menenangkan hatinya  sebelum kamu menegur dengan ucapan maaf.


3. Wanita sulit untuk mencari sesuatu yang dia benci tentang orang  yang paling dia sayang(karena itu banyak wanita yang patah hati bila hubungannya putus  di tengah jalan).


4. Jika sorang wanita jatuh cinta dengan seorang lelaki,lelaki itu akan sentiasa ada  di pikirannya walaupun ketika dia sedang dengan lelaki lain.


5. Bila lelaki yang dia cintai merenung tajam ke dalam  matanya,dia akan cair seperti coklat!!


6. Wanita memang menyukai pujian tetapi selalu tidak tahu  cara  menerima pujian.


7. Jika kamu  tidak suka dengan gadis yang menyukai kamu setengah mati,tolak  cintanya dengan lembut,jangan kasar karena ada  satu semangat dalam  diri wanita yang kamu  tak akan  tahu  bila dia telah membuat keputusan,dia akan  melakukan apa  saja.


8. Jika seorang gadis sedang menjauhkan diri darimu setelah kamu  tolak cintanya,biarkan dia untuk seketika.Jika kamu  masih  ingin menganggap dia seorang kawan,cobalah tegur dia perlahan-lahan.


9. Wanita suka  meluahkan apa  yang mereka rasa.Musik,puisi,lukisan dan tulisan adalah cara  termudah mereka meluahkan isi hati mereka.


10.Jangan sesekali beritahu kepada perempuan tentang apa  yang membuat mereka langsung merasa tak berguna.


11.Bersikap terlalu serius bisa mematikan mood wanita.



12.Bila pertama kali lelaki yang dicintainya sedang diam memberikan respon positif,misalnya menghubunginya melalui telepon,si gadis akan bersikap acuh  tak acuh  seolah-olah tidak berminat,tetapi sebenarnya dia akan  berteriak senang dan tak sampai sepuluh minit,semua teman- temannya akan  tahu  berita tersebut.


13.Sebuah senyuman memberi seribu  arti bagi wanita.Jadi jangan senyum sembarangan kepada wanita.


14.Jika kamu  menyukai sorang wanita,  mulailah dengan persahabatan.Kemudian biarkan  dia mengenalmu lebih dalam.


15.Jika sorang wanita memberi seribu satu alasan setiap kali kamu ajak keluar,tinggalkan dia karena dia memang tak berminat denganmu.


16.Tetapi jika dalam  waktu yang sama dia menghubungimu atau menunggu panggilan darimu,teruskan usahamu untuk memikatnya.


17.Jangan sesekali menebak apa  yang dirasakannya.Tanya dia sendiri!!


18.Setelah sorang gadis jatuh cinta,dia akan  sering bertanya-tanya mengapa aku tak bertemu lelaki ini lebih awal.


19.Kalau  kamu  masih  mencari-cari cara  yang paling romantis untuk memikat  hati sorang gadis,bacalah buku-buku cinta.


20.Bila setiap kali melihat foto bersama,yang pertama dicari oleh wanita ialah siapa yang berdiri di sebelah buah  hatinya,kemudian barulah dirinya sendiri.


21.Mantan pacarnya akan  selalu ada  di pikirannya tetapi lelaki yang dicintainya sekarang akan  berada di tempat teristimewa di hatinya!!


22.Satu ucapan 'Hi' saja  sudah cukup menceriakan harinya.


23.Teman baiknya  saja yang tahu  apa  yang sedang dia rasa dan lalui.


24.Wanita paling benci lelaki yang berbaik-baik dengan mereka semata- mata  untuk menggaet kawan  mereka yang paling cantik.


25.Cinta berarti kesetiaan, jujur dan kebahagiaan tanpa syarat.


26.Semua wanita menginginkan seorang lelaki yang dicintainya  dengan sepenuh hati..


27.Senjata wanita adalah airmata!!


28.Wanita suka jika sesekali orang  yang disayanginya memberi surprise buatnya(hadiah,bunga atau  sekadar kata-kata romantis).Mereka akan terharu dan merasakan bahwa dirinya dicintai setulus hati.Dengan ini dia tak akan  ragu-ragu terhadapmu.


29.Wanita mudah jatuh hati pada lelaki yang perhatian padanya dan baik terhadapnya.So,kalau mau  memikat  wanita pandai-pandailah..


30. Sebenarnya mudah mengambil hati wanita kerena apa  yang dia mau hanyalah perasaan dicintai dan disayangi sepenuh jiwa.



begitulah wanita..
Read More

Post Top Ad

Image and video hosting by TinyPic